: yang tertidu lelap
Ida,dengan apa aku merampok maafmu?
dengan beribu lidah dan tubh yang berdarah-darah
disayat tatapan-tatapan tajam
dan mimik-mimik wajah mencekam
membuat dadaku sesak
gerimis di pelupuk mata tiba
Ida, dengan apa aku merampok maafmu?
dengan menikamkan rindu pada dadamu
mencabut amarah pada rusukku
yang semayam dalam jisimmu
haruskah kutodongkan pistol asmara
pada jantungmu
sekali ku tembak
kau mati tergeletak
Ida, dengan apa aku merampok maafmu?
sedang cinta cuma buat kita lupa segala
seperti yang kau bilang dalam "setitik dian"
sedang cinta cuma buat kita phobia
seperti katamu pada ketakutan
hingga cinta cuma buat kita menyerah
dan kalah
Ida, dengan apa aku merampok maafmu?
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 06 September 2010
Dengan Apa Aku Merampok
Diposting oleh
ubay
di
07.57
7
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi
Senin, 30 Agustus 2010
Bingkisan
Telah ku belah matahari jadi
,delapan belas
ku kantongi dalam saku kemejaku
ku lipat bulan jadi
,sebelas
semesta jadi
,sembilan tiga
ku wadahi dalam
kotak kadoku
untuk mu
,delapan belas
ku kantongi dalam saku kemejaku
ku lipat bulan jadi
,sebelas
semesta jadi
,sembilan tiga
ku wadahi dalam
kotak kadoku
untuk mu
Diposting oleh
ubay
di
07.58
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi
Berita Besar
Saat datang berita besar
Katanya: Bumi akan bergetar
Manusia baru berpikir dan mulai
Sadar
Padahal, di pucuk langit
Sangkakala sudah tersandar
Tinggal tiup
Setelah itu semesta kelar
Saat tiba Adiwarta
Ibu pun lupa anaknya
Hartawan lupa emasnya
Seakan dunia tak ada artinya
Kini, si fasik tahu rasa
Ia sedang di akhir masa
Amalnya tak ada artinya
Tinggal tunggu mati dan neraka
Kala tiba An-Naba
Laut bergulung dan gunung-gunung
Menggantung
Langit terpasung. Alampun ikut
Mendengung
Akhirnya. Sangkakala pun ditiup
Kiamatpun turut menyambut
Nyawa satu-satu tercabut
Dengan lembut
Intisari QS. An-Naba'
Katanya: Bumi akan bergetar
Manusia baru berpikir dan mulai
Sadar
Padahal, di pucuk langit
Sangkakala sudah tersandar
Tinggal tiup
Setelah itu semesta kelar
Saat tiba Adiwarta
Ibu pun lupa anaknya
Hartawan lupa emasnya
Seakan dunia tak ada artinya
Kini, si fasik tahu rasa
Ia sedang di akhir masa
Amalnya tak ada artinya
Tinggal tunggu mati dan neraka
Kala tiba An-Naba
Laut bergulung dan gunung-gunung
Menggantung
Langit terpasung. Alampun ikut
Mendengung
Akhirnya. Sangkakala pun ditiup
Kiamatpun turut menyambut
Nyawa satu-satu tercabut
Dengan lembut
Intisari QS. An-Naba'
Diposting oleh
ubay
di
07.56
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi
Wihdatul Wujud
:Jenar
Ingin Ku kawinkan :
siang dan malam
gunung dan laut
langit dan bumi
hitam dan putih
madu dan racun
baik dan buruk
cinta dan benci
api dan angin
air dan minyak
terang dan gelap
hidup dan mati
tapi tak ada yang mau
jadi penghulu dalam upacara
sakral mereka
sedang Tuhan dan Aku
kini menyatu
Ingin Ku kawinkan :
siang dan malam
gunung dan laut
langit dan bumi
hitam dan putih
madu dan racun
baik dan buruk
cinta dan benci
api dan angin
air dan minyak
terang dan gelap
hidup dan mati
tapi tak ada yang mau
jadi penghulu dalam upacara
sakral mereka
sedang Tuhan dan Aku
kini menyatu
Diposting oleh
ubay
di
07.52
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi
Rafa'ul Jannah
:firdha
1
Bukan sekedar kerinduan pada Illahi
yang meletup-letup dalam hati
2
kerinduan ini telah mengakar ke dasar
tanah jiwa
3
sebab jisim ini pun tak lagi mampu
nahan beban dosa
4
bekas pelacur ini
tak mau lagi,
nikung
dari Jalan-Mu
tak mau lagi,
nerabas,lampu merah
di perempatan jalan-Mu
5
dengan seikat shalat taubat
atau dengan nasuha sekerat
aku bisa lepas dari cekam kiamat
6
aku kini kebingungan
cari-cari cara enak nuju kematian
yang khusnul khatimah
dan menghidangkan kenikmatan
7
aku kini telah siap menyambut dia
-hingga mulai melupakan lampau-
buat temu langsung dengan-Mu
aku orangnya makin tak bisa tahan
saking rindunya pada rafa'ul jannah
-sangat tak bisa nahan rindu
pada rafa'ul jannah-
pingin, menguras dahaga
di telaga haudl
dan bersua kanjeng Rasulullah
(tapi, rasanya aku tak sekedar
inginkan rafa'ul jannah)
aku inginnya yang lebih tinggi dari
rafa'ul jannah(firdaus)
8
akhirnya aku dapatkan
lebih tinggi dari sorga tujuh tingkatan
-sorga tingkat kedelapan-
Senja terakhir bulan Sya'ban
1
Bukan sekedar kerinduan pada Illahi
yang meletup-letup dalam hati
2
kerinduan ini telah mengakar ke dasar
tanah jiwa
3
sebab jisim ini pun tak lagi mampu
nahan beban dosa
4
bekas pelacur ini
tak mau lagi,
nikung
dari Jalan-Mu
tak mau lagi,
nerabas,lampu merah
di perempatan jalan-Mu
5
dengan seikat shalat taubat
atau dengan nasuha sekerat
aku bisa lepas dari cekam kiamat
6
aku kini kebingungan
cari-cari cara enak nuju kematian
yang khusnul khatimah
dan menghidangkan kenikmatan
7
aku kini telah siap menyambut dia
-hingga mulai melupakan lampau-
buat temu langsung dengan-Mu
aku orangnya makin tak bisa tahan
saking rindunya pada rafa'ul jannah
-sangat tak bisa nahan rindu
pada rafa'ul jannah-
pingin, menguras dahaga
di telaga haudl
dan bersua kanjeng Rasulullah
(tapi, rasanya aku tak sekedar
inginkan rafa'ul jannah)
aku inginnya yang lebih tinggi dari
rafa'ul jannah(firdaus)
8
akhirnya aku dapatkan
lebih tinggi dari sorga tujuh tingkatan
-sorga tingkat kedelapan-
Senja terakhir bulan Sya'ban
Diposting oleh
ubay
di
07.49
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)