Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 September 2010

Dengan Apa Aku Merampok

: yang tertidu lelap

Ida,dengan apa aku merampok maafmu?

dengan beribu lidah dan tubh yang berdarah-darah
disayat tatapan-tatapan tajam
dan mimik-mimik wajah mencekam
membuat dadaku sesak
gerimis di pelupuk mata tiba

Ida, dengan apa aku merampok maafmu?

dengan menikamkan rindu pada dadamu
mencabut amarah pada rusukku
yang semayam dalam jisimmu

haruskah kutodongkan pistol asmara
pada jantungmu
sekali ku tembak
kau mati tergeletak

Ida, dengan apa aku merampok maafmu?

sedang cinta cuma buat kita lupa segala
seperti yang kau bilang dalam "setitik dian"
sedang cinta cuma buat kita phobia
seperti katamu pada ketakutan

hingga cinta cuma buat kita menyerah
dan kalah

Ida, dengan apa aku merampok maafmu?

Senin, 30 Agustus 2010

Bingkisan

Telah ku belah matahari jadi

,delapan belas

ku kantongi dalam saku kemejaku



ku lipat bulan jadi

,sebelas

semesta jadi

,sembilan tiga

ku wadahi dalam

kotak kadoku

untuk mu

Berita Besar

Saat datang berita besar
Katanya: Bumi akan bergetar
Manusia baru berpikir dan mulai
Sadar
Padahal, di pucuk langit
Sangkakala sudah tersandar
Tinggal tiup
Setelah itu semesta kelar


Saat tiba Adiwarta
Ibu pun lupa anaknya
Hartawan lupa emasnya
Seakan dunia tak ada artinya
Kini, si fasik tahu rasa
Ia sedang di akhir masa
Amalnya tak ada artinya
Tinggal tunggu mati dan neraka

Kala tiba An-Naba
Laut bergulung dan gunung-gunung
Menggantung
Langit terpasung. Alampun ikut
Mendengung

Akhirnya. Sangkakala pun ditiup
Kiamatpun turut menyambut
Nyawa satu-satu tercabut
Dengan lembut


Intisari QS. An-Naba'

Wihdatul Wujud

:Jenar





Ingin Ku kawinkan :

siang dan malam

gunung dan laut

langit dan bumi

hitam dan putih

madu dan racun

baik dan buruk

cinta dan benci

api dan angin

air dan minyak

terang dan gelap

hidup dan mati



tapi tak ada yang mau

jadi penghulu dalam upacara

sakral mereka



sedang Tuhan dan Aku

kini menyatu

Rafa'ul Jannah

:firdha



1

Bukan sekedar kerinduan pada Illahi

yang meletup-letup dalam hati

2

kerinduan ini telah mengakar ke dasar

tanah jiwa

3

sebab jisim ini pun tak lagi mampu

nahan beban dosa

4

bekas pelacur ini

tak mau lagi,

nikung

dari Jalan-Mu

tak mau lagi,

nerabas,lampu merah

di perempatan jalan-Mu

5

dengan seikat shalat taubat

atau dengan nasuha sekerat

aku bisa lepas dari cekam kiamat

6

aku kini kebingungan

cari-cari cara enak nuju kematian

yang khusnul khatimah

dan menghidangkan kenikmatan

7

aku kini telah siap menyambut dia

-hingga mulai melupakan lampau-

buat temu langsung dengan-Mu



aku orangnya makin tak bisa tahan

saking rindunya pada rafa'ul jannah

-sangat tak bisa nahan rindu

pada rafa'ul jannah-

pingin, menguras dahaga

di telaga haudl

dan bersua kanjeng Rasulullah



(tapi, rasanya aku tak sekedar

inginkan rafa'ul jannah)



aku inginnya yang lebih tinggi dari

rafa'ul jannah(firdaus)

8

akhirnya aku dapatkan

lebih tinggi dari sorga tujuh tingkatan

-sorga tingkat kedelapan-







Senja terakhir bulan Sya'ban