Jumat, 30 Juli 2010

Laporan Perjalanan Jurnalistik Mengikuti POSPENAS V JATIM


   Langsung saja kawan, akan aku mulai catatan perjalanan ku saat ikut POSPENAS kemarin di surabaya..tanggal 3 juli 2010 hari sabtu pagi aku dan teman-teman ku bersiap berangkat dari pondok menuju stasiun Tugu setelah sebelumnya pamitan dan sowan dengan KH. Mu'tashim Billah pengasuh PPSPA, Bpk Jaziluz Sakho' dan Hj, Ainun Hakiemah selaku kepala MASPA.

   Setelah itu langsung saja kami dan kontingen dari DIY memasuki Sancaka yang akan membawa kami ke Surabaya tempat pelaksanaan POSPENAS.

(heeem...mungkin bersambung dulu, tapi ku kutipkan puisiku yang kemaren dapat juara 2 alias dapat medali perak di cabang cipta puisi kemarin..okeee...)

AKU MERINDUKAN LADUNI

Intisari Surat Al-Kahfi ayat 62-80

Kala laut bermata jingga
duduk aku di bibir pantai
butir-butir tasbih telah kuputar
melafadz atas Asma-Mu


Surya menyelam kedalam laut
karang-karang tertutup kabut
bersila. Melantun shalawat atas Muhammad
dan fatihah atas Khidir

(Aku merindukan laduni)

Kakek tua menatap tajam
seakan ingin melucuti tubuhku
                                             lalu, 
ia mengulurkan tangan. Mengajak salaman
kurengkuh tangan reyot itu. pelan
dingin. lunak. bagai tanpa tulang
ia tersenyum. berwasiat panjang


(Aku merindukan laduni)

(“Bolehkah aku mengikutimu, Tuan?
dalam setiap laku dan ucapan”)

Kakek tua berkata: “silahkan
asal kau menjanjikan kesabaran”

Kakek tua berjalan dalam temaran bulan
Aku mengikutinya perlahan
dan tiba depan sebuah bahtera
Kakek tua melubangi geladaknya


(“Apa kau gila pak tua?
Apa kau mau menenggelamkan penumpangnya?”)

Kakek tua berkata:
“Dimanakah kesabaran yang kau janjikan?”

(Aku merindukan laduni)

Kakek tua melanjutkan perjalanan
Aku mengikutinya malas-malasan
Ketika bersua dengan seorang anak
Kakek tua membunuhnya dengan sekali hentak


(“Apa kau gila pak tua?
Mengapa kau renggut jiwa tak berdosa?”)


Kakek tua berkata
:”Dimanakah kesabaran yang kau janjikan?”


(Aku merindukan laduni)

Kakek tua menyambung lagi perjalanan
tiba di sebuah perkotaan
Kakek tua menyapa warga. meminta makan
tapi tak ada yang menyajikan perjamuan
Aku dan Kakek tua berjalan tergopoh-gopoh
terjatuh menanduk tembok yang hampir roboh
Kakek tua membangunnya kokoh
Sungguh, suatu tindakan bodoh


(“Apa kau gila pak tua?
Kenapa kau lakukan hal yang sia-sia?”)

Kakek tua berkata
:”Dimanakah kesabaran yang kau janjikan?”


(Aku merindukan laduni)


Kakek tua tak lagi melanjutkan
Perjalanan
Cukup!! sampai di sini, kita berpisah
tak bersua lagi tanpa serapah
baiklah, kan kuceritakan perkara
yang sudah-sudah

“Ingatkah kau pada sebuah bahtera
yang aku lubangi geladaknya?
itu semua karena raja lalim
yang merampas bahtera
dengan semena-mena”


(O, Aku makin merindukan laduni
,rindu laduni)


“Dan ingatkah kau tentang
Anak yang kubunuh dengan sekali hentak?


Itu lantaran si anak akan durhaka dewasa kelak”

(O, Aku sangat merindukan laduni
Sangat rindu laduni)

“Dan ingatkah kau pada
tembok yang hampir
roboh dan kubangun
kembali hingga kokoh?


lantaran harta anak-anak
tanpa bapak tertimbun di bawahnya

(O, Aku tak bisa menahan rindu pada laduni
-sungguh tak bisa menahan rindu pada laduni-)

Nah ini Puisiku kemarin...selain terinspirasi dari surat Al-kahfi ayat 62-80 puisi ini tercipta karena pengalaman pribadiku dan temanku saat kami menyusuri pantai petanahan di kebumen. Saat itu kami bertemu kakek tua yang memang agak "Freak" menurut kami, kami ajak ngobrol. lalu kami beri dia dua buah lepet dan 3 batang rokok. udah dulu yah, ntar lanjut lagi dah. Sebelumnya sekedar info, yang dapet Juara 1 tuh dari JATIM terus juara 3 dari KALSEL.

2 komentar:

fafa mengatakan...

like... :)

wiwine mengatakan...

Mas ubay kerenn.. :)
Aplous

Poskan Komentar