Sabtu, 23 Oktober 2010

BASINO

Saya tidak habis pikir kenapa saya bisa pingsan dan berada di tempat ini. Padahal cuma sebuah kilatan cahaya yang menabrak tubuh saya, dan ketika sadar saya berada di depan sebuah gedung megah yang lengang, yang kelihatan terbengkalai sekali. Tetapi rasanya saya mengenal gedung ini. Ah, apa mungkin hanya perasaan saya saja ya??.
Kemudian saya mencoba masuk ke gedung megah itu lewat pintu depan, tapi tetap lengang yang saya jumpai. Saya berkeliling sebentar di lower ground gedung itu. Rasanya saya mencium bau anyir darah. Tapi saya tidak tahu dimana sumber bau tersebut. Lantas saya memilih masuk saya ke dalam lift gedung megah tersebut (ternyata masih berfungsi), dan langsung naik ke lantai atas.
Di lantai atas lagi-lagi saya hanya menemukan kelengangan, saya berkeliling dahulu, siapa tahu ada orang di lantai atas. Tiba di depan sebuah ruangan yang bertuliskan “Meeting Room” saya berhenti sebentar, lantas membuka pintunya, dan saya menemukan 3 orang pria yang terkejut melihat kedatangan saya. “Ada tamu rupanya, silakan masuk” pria yang rambutnya dikuncir menyambut kedatangan saya. Saya hanya mengangguk, lantas menghampiri mereka dan duduk di sebuah kursi kantor yang empuk.
“Wah..akhirnya setelah sekian lama, ada orang juga yang mau bertamu ke kantor kita ini” pria berambut gondrong dan bermuka bengis itu memecah keheningan.
“Memang sudah berapa lama kantor ini tidak di datangi tamu??” saya mencoba bertanya
Mereka hanya diam. Dan tiba-tiba pria yang satunya (yang sedari tadi diam saja), berbalik badan, dan menghela rambut yang menutupi wajahnya.
“Sudah sekitar 3 bulan ini” pria itu berbicara, nafasnya berbau anyir darah.
“Basino, mulutmu bau mayat tauk, kapan terakhir kali kau mengeksekusi tikus-tikus berdasi itu”pria berambut kuncir protes.
“2 hari lalu kunto. Rabejo, seorang pejabat daerah Klinjiran yang menilep 2 milyar uang APBD daerahnya, memang kenapa, ada mangsa lagi buatku??” jawab pria yang ternyata hanya memiliki satu mata sebesar telur ayam itu, dan membuat jantung saya hampir copot karena baru menyadarinya.
“Belum ada untuk saat ini, kalau ada, kirman pasti memberitahukannya padamu, bener kan man???”
“Hahaha...iya..iya..kau betul kunto. Tim penyidik kita belum mendapat laporan dari masyarakat ataupun lembaga” orang yang ternyata bernama kirman itu menjawab sambil ketawa terbahak-bahak.
Saya pun semakin terheran-heran dengan perbincangan mereka bertiga. Korupsi, mayat, bau mulut??. Sebenarnya tugas apa yang di emban si Basino ini.
“Hei kawan, kau belum menyebutkan nama dan asalmu,lekas sebutkan agar kita tidak canggung!!” Kunto membuyarkan lamunanku dengan pertanyaannya.
“Eee,,e,,,,iyaa..nama saya Qiftir,.saya dari Indonesia” saya menjawab sambil gelagapan.
“Namamu seperti raja Mesir, dan negeri asalmu seperti tidak asing lagi di telingaku. "O ya, bagaimana kau bisa sampai kesini??”
Saya pun menjawab pertanyaan Kunto dengan panjang lebar, dari mulai kilatan cahaya itu sampai akhirnya berada di kantornya, pada akhirnya saya pun tahu bahwa negeri tempat saya terdampar ini bernama Nusantara, dan ternyata di negeri yang aneh ini terdapat sebuah lembaga yang bernama Komisi Pembasmian Tikus Berdasi atau lebih dikenal dengan nama KOMBASTIBER. Dan yang lebih mengejutkan lagi tikus berdasi yang tertangkap akan langsung dieksekusi oleh Basino dengan cara memakan Tikus berdasi itu hidup-hidup.
Benar-benar gila negeri ini, padahal di negeri saya, banyak tikus-tikus berdasi yang bisa lepas begitu saja atau paling banyak hanya terkena jerat hukum yang begitu ringan. Saya juga mengetahui, bahwa ternyata Basino itu bukan manusia, menurut Kunto dia itu mahluk dari dimensi lain yang sengaja dikirim Tuhan untuk memberantas para tikus berdasi yang ada di negeri Nusantara. Saya mulai berandai-andai jika saja mahluk seperti Basino itu di kirim Tuhan ke negeri saya, pasti tidak akan ada lagi orang-orang yang berani korupsi. Karena konsekuensinya mereka harus mau di eksekusi mati dengan cara yang sedemikian mengerikan.
“Fir, Kok malah melamun, ayo di minum kopinya, nanti jadi dingin lho” Basino mengagetkan saya. Nafasnya yang bau mayat itu benar-benar mengganggu penciuman saya, untuk saja saya sedang pilek, jadi saya tidak muntah karenanya.
“O..yaa..yaa..saya sampai lupa karena keasyikan berpikir” saya menjawab seadanya.
Saya melihat ke sekeliling ruangan meeting itu, cukup rapi dan terlihat eksotik. Tapi tetap menimbulkan kesan menyeramkan karena memang gedung ini hanya di huni tiga orang itu saja. Tiba-tiba saja terbesit di pikiran saya , bagaimana caranya bisa pulang ke negeri asal saya?? karena sampai di negeri ini pun saya tidak sengaja. Akhirnya saya pun mencoba menamyakan pada Kunto yang sepertinya mempunyai wawasan yang lebih luas ketimbang Kirman ataupun Basino.
“Kunto, saya mau tanya, bagaimana caranya saya bisa pulang ke negeri asal saya???” saya bertanya dengan sedikit gugup
“Benar, kau ingin pulang ke negerimu??” Kunto menjawab. Senyumnya terlihat keji. “Basino, antar kan dia pulang” lanjutnya sembari menyuruh Basino.
Basino pun berdiri. Berjalan ke arah saya. Menarik saya hingga berdiri, kemudian dia membawa saya ke pinggir ruangan, lantas Basino membuka tirai jendela yang ada di depan saya dan Basino. Seketika itu juga saya di lempar oleh Basino ke luar gedung, saya berteriak, saya merasa takut sekali karena di lempar dari gedung setinggi 20 lantai tersebut. Sebelum saya jatuh ke bawah, tiba-tiba ada kilatan cahaya yang menabrak saya. Saya memejamkan mata saya karena cahaya itu benar-benar menyilaukan, begitu membuka mata, saya terkejut karena banyak orang mengerumuni saya yang tergeletak di pinggir jalan.
Kemudian ada seorang wanita yang menerobos kerumunan, itu Ida, istri saya, Dia menangis sejadi-jadinya. Dan baru saya tahu ternyata tadi saya pingsan sesaat setelah keluar dari Kantor KPK, dan terjatuh begitu saja di depan gedung KPK. Saya lantas beranjak dari tempat dimana tadi saya pingsan, istri saya memapah saya karena memang saya belum begitu kuat berjalan. Saya menatap langit yang ternyata sedang mendung dan mau menangis, tiba-tiba saja saya teringat dengan Kunto, Kirman, dan tentunya Basino. Orang-orang yang saya temui dalam ketidak sadaran saya. Entah itu mimpi, atau saya yang terjebak ke dimensi lain. Entahlah??. Rintik-rintik air hujan pun mulai menetes saat itu, saya dan istri saya mempercepat langkah. Hujan pun semakin deras mengguyur Kota yang saya tempati ini.

0 komentar:

Poskan Komentar