Jumat, 27 Agustus 2010

Kau Adalah Aku

“Di bawah kuasa tirani
Ku susuri jalan lurus ini
Berjuta kali turun aksi
Bagiku satu langkah pasti”


TERDENGAR sorak-sorai ribuan mahasiswa menyanyikan mars pembangkangan pada ketidakadilan. Mereka menerabas jalanan ibukota menuju gedung pusat pemerintahan di negeri Dwipada. Kau berada di antaranya. Kau maju terus walau sepasukan polisi dan brimob menghalangi langkahmu dan kawan-kawan lain menerabas masuk ke gedung berwarna hijau itu. Dorong-dorongan dengan aparat tak membuatmu puas juga.
Kaupun tetap ngeyel dan lari sekuat tenaga. Berloncat-loncat. Posturmu yang kecil memudahkanmu melewati barisan aparatur negeri Dwipada, walaupun sesekali tubuhmu dihantam tongkat pemukul dan ditendang sepatu-sepatu laras. Tubuhmu yang memar dan keningmu yang berdarah tak buatmu gentar sedikitpun. Kau tetap berlari. Kau berani hidup, namun kau juga berani mati. Kau lihat di belakangmu lusinan brimob mengejarmu, mereka memegang pistol, tapi tak berani menembakmu. mereka takut. Instruksi atasan atau terlalu yakin bisa menangkapmu tanpa senjata. Entahlah. “Masa bodoh” katamu sambil berlari sekencang kijang. Kau lari, terus berlari. Menaiki ratusan tangga dan langsung memanjat tembok dan loncat ke atas atap berwarna hijau itu dan langsung menyemprotkan cat putih dari kaleng pillock yang kau genggam di tangan kananmu dan menuliskan “JUJUR, ADIL, TEGAS”. Setelah itu kau berdiri tegak mengambil secarik kertas dari saku kemejamu dan berteriak lantang membacakan puisi karangan Rendra, “ Sajak Lisong”. Kau merasa puas atas demonstrasi solomu atau lebih tepat di sebut ulah nekatmu itu.
Kau turun dari gedung itu dan berjalan santai melewati wakil-wakil rakyat yang cuma bisa melongo melihat aksi gilamu, mimik mukanya sama dungunya saat mereka tidur di tengah-tengah rapat paripurna atau kucing-kucingan saat bolos di jam kerja.
Setelah peristiwa itupun, kau tetap menyuarakan kegelisahanmu, merapat dalam barisan demonstran, dan meluapkan kritik dan kemarahanmu lewat tulisan di koran-koran. Ya, kerena menurutmu tulisan adalah ekspresi kemarahan yang paling terhormat.
Kau juga tetap merasa tak gentar walau sudah puluhan kali diancam oleh orang-orang suruhan birokrat-birokrat busuk yang terusik atas eksistensimu menerjang hak-hak prerogatif mereka sebagai penguasa.
Bahkan, saat kau di culik oleh orang-orang suruhan Anggodo, Presiden Dwipada, kau dengan tenangnya menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang meraka lontarkan dan kaupun menerima pukulan-pukulan di wajahmu dengan santai, sehingga 2 gigi grahammu tanggal begitu saja.
Kau yakin bahwa teman-teman seperjuanganmu akan menuntut pada penguasa Dwipada untuk melepaskanmu. Benar saja, ribuan masyarakat dari berbagai lapisan turun kejalanan menuntut agar kau di bebaskan . saat itu, sosokmu sudah menjadi sosok yang inspiratif bagi semua orang. Dan akhirnya, banyak orang menentang presiden dan dengan itu, kau berhasil meruntuhkan tirani orde anyar dwipada. Kaupun akhirnya berhasil di bebaskan.
Wajahmu kini menghiasi setiap halaman utama korang local maupun nasional, jadi hotnews di berbagai stasiun televisi. Ini semua karena kau berjalan menurut keyakinanmu, seperti yang pernah di nukilkan oleh seorang uskup dari Timotios:14 “Hendaklah engkau tetap berpegang kepada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini” ujar uskup tua vang kau temui saat seminar lintas agama di Turin, Italia. Kau mendengarkannya walau kau seoranag muslim “Aku sangat menghargai pluralisme” dalihmu setiap kau ditentang oleh anak-anak Rohis kampusmu.
Setelah tirani kekuasaan yang sudah 32 tahun berkuasa berhasil kau runtuhkan, kau masih saja berjuang dengan penuh seluruh, tiap ditanya kenapa kau punya semangat seperti ini, kau selalu menjawab bahwa semangatmu ini karena pramoedya Ananta Toer lewat novel-novelnya yang membakar geloramu dan menyalakan api pemberontakan pada ketidakadilan dalam jiwamu. Kau jadi agak mirip dengannya, bedanya Pramoedya harus rela jadi tahanan politik selama bertahun-tahun, sedang kau tidak demikian bukan. “Chairil dan Rendra pun ikut andil lewat puisi-puisinya” jawabmu menambahi sambil menghembuskan asap rokok lintingan ke udara.
Karena itu kau pun jadi teringat semasa SMA sekaligus masa nyantri-mu dulu, kau sering mengajak teman-temanmu yang benar-benar tidak tahu estetika sastra, membuat komunitas pecinta puisi, yang membacakan puisi ciptaan mereka sendiri atau penyair-penyair besar. Secara tidak langsung kau menjelma menjadi Umbu Landu Paranggi, Presiden Malioboro yang sekarang hijrah ke Bali menjadikan para lakon di Maliboro mulai dari preman hingga tukang becak menjadi intim dengan puisi, atau seperti Mr. Keating dalam Dead Poets Society yang di perankan Robin Williams, yang berhasil manjadikan murid-muridnya “gila puisi”, padahal dia mengajar di sekolah yang kaku yang bertujuan mencetak pemimpin generasi aristokrasi di Amerika sana.
Selain itu, kau juga berhasil merubah pemikiran teman-temanmu yang konservatif menjadi terbuka dan bebas, walau pada akhirnya kau di drop out dari lembaga pendidikan yang kau diami semasa SMA dulu karena dianggap memberontak dan separatis. “Lupakan masa SMA itu sejenak” ucapmu mengakhiri flashback masa SMA mu yang pahit.
Karena puisi itu juga kau sering bertingkah gila dan membuat orang-orang sekitarmu geleng-geleng kepala. Pernah saat kuliah sastra semester dua kau berkoar-koar membacakan puisi semi-teatrikal di depan gedung RRI Jogja, saat itu Evi Idawati sedang mengadakan lomba baca puisi karyanya yang termaktub dalam kitab “Pengantin Sepi”. Kau menuduh sastrawan yang satu ini menjadikan sastra sebagai alat komersil semata untuk mengeruk keuntungan. Padahal itu hanya akal-akalanmu saja yang sedang kere agar bisa ikut lomba baca puisi itu.
Kau juga sering menulis puisi tentang Tuhan, bahkan sering memenangkan lomba cipta puisi religius tingkat regional maupun nasional. Padahal saat kau menulis puisi itu, botol-botol vodka berserak di mejamu dan bau sengak asap rokok yang kau bilang cimenk
itu menusuk setiap orang yang berada dikamarmu.
Kau yang kali ini lebih mirip Tardji yang menulis sajak tentang Tuhan dan Pertaubatan dengan botol bir tergenggam di tangannya.
“O,lihat Tuhan, kini bekas pemabuk ini
ngebut
dijalan lurus” kau berteriak lantang sambil membacakan puisi “Idul Fitri” buatan Tardji itu. “Aku percaya Tuhan, aku pun seorang muslim, tapi ini hanya agama turun temurun dan agar tak di anggap komunis oleh pemerintahan anggodo saat itu”ujarmu acap kali kau di tanya tentang ‘keteguhan yang kau peluk’.
Kini di usiamu yang hampir kepala lima dan di tengah situasi politik negeri Dwipada yang sudah tak begitu carut-marut karena telah beberapa kali berganti kekuasaan, dan sepertinya kebengalanmu ketika masih muda dulu sudah sedikit memudar. Begitupun teman-teman seperjuanganmu saat meruntuhkan tirani lalim yang kau tentang. Kau kini memilih hanya jadi “tukang nulis” yang kritis. Kau tetap meyakini bahwa menulis adalah pengekspresian kemarahan yang paling terhormat, padahal secara ekonomis, profesimu itu kurang menjanjikan untuk hidup dalam kemewahan. “ kalau aku gak nulis, aku gak bisa makan nanti” katamu mempertahankan argumenmu.
Padahal banyak partai-partai politik yang di pimpin teman-temanmu dulu ingin merekrutmu menjadi politisi yang memiliki jabatan prestisius. Kau menolaknya dengan halus . “Aku tak mau ditentang diriku sendiri“. Kalau saja kau mau menerima tawaran tersebut, sekarang kau bisa hidup berkecukupan bahkan lebih, dan tak bisa di jamin kau tidak merubah gaya hidupmu menjadi hedonis-borjuis.
Kau kini sudah semakin arif dalam memahami dan menyikapi kehidupan, kau tahu itu lewat sajak-sajak Chairil, “Aku mau hidup seribu tahun lagi”, falsafah yang kau pegang ketika muda dulu, dan kini kau berujar lirih “hidup hanya menunda kekalahan/…sebelum pada akhirnya kita menyerah”.
Dan di suatu senja di beranda rumahmu, kau terheran-heran dengan semuanya, dan bertanya:
“Siapa kau sebenarnya, mengapa kau begitu tahu tentang diriku??”
“Ya, aku memang tahu banyak tentang kau, sebab aku adalah kau, dan kau adalah aku”.


Pandanaran, Agustus 2010
*Bukti kekagumanku pada orang-orang macam
Chairil Anwar, W.S Rendra, Pramoedya Ananta Toer,
Umbu Landu Paranggi, Sutardji Calzoum Bahri
dan Evi Idawati

1 komentar:

Sarah Mawane mengatakan...

hello. i find your writing is intersting. can we have small discussion. to increase our writing skill. please contact me on sarahmawaneATgmailDOTCOM

Poskan Komentar